Mengapa sentuhan manusia tetap penting dalam produksi video untuk marketing? Belakangan ini, tingginya permintaan atas konten video membuat banyak tim kreatif dan brand beralih ke AI untuk mempercepat proses produksi.
Meskipun efisien, hasil AI sering kali terasa generik dan kurang emosional sehingga kehilangan koneksi dengan audiens. Itulah mengapa kolaborasi antara AI dan sentuhan manusia tetap penting, termasuk dalam video marketing.
AI bisa saja digunakan untuk mempercepat tahap teknis, sementara manusia tetap memegang kendali atas arah kreatif dan kualitas akhir. Berikut cara menggabungkan AI dan sentuhan manusia dalam desain video marketing.
1. Gunakan AI untuk Tahap Awal (Ideasi & Draft)
Tahap awal adalah momen paling ideal untuk melibatkan AI. Kecepatan dan kemampuan AI dalam mengolah data sangat membantu untuk memecah kebuntuan ide dan mempercepat proses eksplorasi.
Apa yang bisa dibantu oleh AI di tahap awal?
Menulis skrip awal: AI bisa membantu menyusun naskah video berdasarkan brief, target audiens, dan gaya brand.

Membuat struktur atau outline video: Menentukan alur dari pembukaan, isi, hingga call-to-action.
Storyboard otomatis: Mengubah narasi menjadi urutan visual yang bisa dijadikan acuan produksi.
Voice-over sementara (draft): Untuk keperluan mockup atau pitch awal.
Ide visual (moodboard, style, tone): AI bisa menghasilkan beberapa alternatif gaya visual berdasarkan kata kunci.
Ada banyak AI yang bisa Anda gunakan, misalnya ChatGPT untuk menyusun skrip awal, Tome untuk membuat storyboard, dan Shutterstock AI Generator untuk menghasilkan gambar berdasarkan kata kunci.
AI berbayar umumnya akan menghasilkan output yang lebih baik dibandingkan AI gratis. Namun, semuanya tergantung preferensi Anda, jika memungkinkan tetap lakukan review manual di setiap tahap.
2. Lakukan Kurasi dan Refinement secara Manual
Setelah AI menghasilkan draft atau mockup, tahap selanjutnya adalah penyaringan dan penyempurnaan. Peran Anda benar-benar penting di tahap ini karena menentukan kualitas akhir video.
Mulailah dengan menyesuaikan narasi agar lebih natural dan menggugah emosi. Lalu, cek apakah urutan visual atau scene sudah akurat. Anda juga bisa menambahkan elemen storytelling lainnya seperti, ekspresi karakter, pacing video, dan humor.
Proses ini bisa dilakukan langsung di docs atau menggunakan alat pendukung lainnya. Misalnya, Anda bisa menggunakan Grammarly untuk memastikan skrip atau Adobe Illustrator untuk menyusun layout dan visual frame dari storyboard.
3. Kombinasikan dengan Aset Premium dan Tool Editing Profesional
Video yang akan ditayang di platform resmi atau iklan digital membutuhkan aset premium dan pengolahan akhir yang rapi. Sedangkan AI belum tentu bebas lisensi sehingga dapat berisiko atas legalitas konten.
Selain itu, transisi, warna, pacing, dan sound design adalah bagian penting yang tidak bisa sepenuhnya ditangani AI. Hasilnya, editing profesional menggunakan alat berbayar akan memberikan kesan polished.
Umumnya, untuk produksi profesional, editor akan menggunakan software seperti Final Cut Pro, Adobe Premium Pro, dan After Effects untuk menambahkan sound effect, motion graphics, dan pengeditan lainnya.
4. Lakukan Review Manual dan Validasi
Setelah proses penyempurnaan dan editing selesai, langkah berikutnya adalah review manual dan validasi akhir. Ini penting untuk memastikan bahwa video yang akan dipublikasikan benar-benar layak tampil mewakili brand.

Jangan melakukan review dengan AI, sebaiknya libatkan tim kreatif untuk melakukan internal review. Jika perlu, cobalah melakukan testing dengan audiens atau meminta feedback dari stakeholder.
Review dapat dilakukan menggunakan berbagai cara dan media. Misalnya, Anda bisa menggunakan Google forms atau Typeform untuk melakukan survei cepat tentang persepsi audiens terhadap video yang diuji coba.
5. Terapkan dalam Produksi Video Marketing secara Hybrid
Setelah memahami peran masing-masing antara AI dan manusia, langkah selanjutnya adalah menggabungkan keduanya dalam satu alur kerja produksi video yang efisien.
proses ini bisa dimulai dari penyusunan brief oleh tim kreatif, yang menetapkan tujuan kampanye, audiens, dan platform distribusi. Setelah itu, AI dapat dimanfaatkan untuk mempercepat fase ideasi.
Setelah draft terbentuk, tim kreatif mengambil alih untuk melakukan kurasi dan penyempurnaan. Di tahap ini, narasi diperhalus, visual disesuaikan dengan brand guideline, dan ritme video disesuaikan agar terasa lebih emosional dan mengalir.
Hasil akhir kemudian diproduksi dengan menggabungkan hasil dari AI dan aset nyata seperti footage, musik, dan voice-over manusia. Proses editing dilakukan menggunakan tools profesional seperti Adobe Premiere Pro atau After Effects.
Kesimpulan
AI membawa efisiensi tinggi dalam produksi video marketing, terutama di tahap awal seperti ideasi dan draft. Namun, sentuhan manusia tetap krusial untuk menjaga kualitas, emosi, dan relevansi brand.
Melalui pendekatan hybrid, proses produksi menjadi lebih cepat tanpa mengorbankan kualitas. AI membantu mempercepat pekerjaan teknis dan eksploratif, sementara sentuhan manusia memastikan hasil akhir tetap relevan, kreatif, dan menyentuh sisi emosional audiens.
Jika kamu membutuhkan aset premium seperti footage berkualitas tinggi, musik, atau gambar AI yang aman secara lisensi untuk proyek video marketingmu, kamu bisa eksplor koleksi lengkap dari Shutterstock melalui Riz Visual — mitra resmi Shutterstock di Indonesia.
