Branding Marketing

Retro Futurism dalam Desain

Kembalilah ke masa depan dengan tren marketing dan desain kitsch ini. Retro Futurism menata ulang masa depan melalui lensa masa lalu, memadukan elemen vintage dan futuristik menjadi perpaduan eklektik yang memukau.

Pada tahun 2026, futurisme retro ditetapkan menjadi salah satu estetika yang menentukan dalam desain, periklanan, dan budaya pop. Hal ini dikarenakan daya tariknya yang eskapis dan kemampuannya untuk melembutkan skenario masa depan yang berpotensi menakutkan.

Setiap era telah membayangkan seperti apa masa depan. Saat ini, kita pun tak berbeda. Masa depan memang menakutkan sekaligus menggembirakan. Laju perkembangan AI yang mencengangkan juga telah mendorong kita untuk semakin mempertanyakan seperti apa masa depan kita nanti. Melalui lensa desain ” “yesterday’s tomorrow“, kita dapat memvisualisasikan spekulasi ini, dengan futurisme retro yang menawarkan cara untuk menyalurkan kekhawatiran ini sekaligus fantasi eskapis yang menarik bagi beragam audiens.

Apa Itu Retro Futurism?

Retro futurism adalah sebuah estetika desain yang membayangkan masa depan melalui sudut pandang masa lalu. Skenario atau teknologi futuristik dipadukan dengan latar atau gaya vintage, menciptakan perpaduan unik antara masa lampau dan masa depan.

Beberapa interpretasi retro futurism mengeksplorasi bagaimana dekade-dekade sebelumnya membayangkan rupa masa depan. Gaya seperti Steampunk memadukan estetika era Victoria dengan teknologi yang menggambarkan visi ideal tentang kemampuan zaman tersebut, seperti mesin bertenaga uap, kapal udara, dan komputer analog.

Lisensi gambar ini via Oleksandra Klestova, HelgaQ, dan Addictive Creative.

Interpretasi retro futurism lainnya menempatkan teknologi kontemporer atau spekulatif (seperti realitas virtual atau AI) ke dalam konteks retro, seperti era 1950-an atau 1980-an. Tidak masalah era mana dari abad terakhir yang kamu pilih sebagai fokus desain retro-futuristikmu. Intinya adalah menggabungkan elemen retro dan futuristik untuk menghasilkan visual yang menarik dan memikat.

Sebagai contoh, untuk menciptakan efek yang lebih sureal dan distopia dalam sebuah desain atau gambar, kamu dapat memadukan berbagai era masa lalu sekaligus, sehingga persepsi waktu bagi penonton menjadi kabur. Semakin eklektik, semakin baik!

Cara Mendesain dengan Gaya Retro Futurism

Retro futurism bisa menjadi estetika yang cukup sulit untuk didefinisikan, karena periode waktu yang dirujuk dapat sangat beragam dan interpretasinya tentang masa depan pun sangat fleksibel. Namun, ada beberapa ciri utama retro futurism yang dapat kamu gunakan untuk menciptakan efek nostalgia dan sureal ini, apa pun dekade yang ingin kamu jadikan referensi.

Mari kita lihat bagaimana gaya retro futurism muncul melalui palet warna, fotografi, grafis, tipografi, dan ilustrasi untuk membantumu menguasai gaya yang super kreatif ini.

Warna

Kamu dapat menampilkan estetika retro futurism dengan memadukan palet warna masa lalu dan masa depan secara cerdas. Tentukan era yang ingin kamu angkat dan identifikasi palet warna vintage yang menjadi ciri khas periode tersebut, lalu tambahkan warna-warna yang lebih umum diasosiasikan dengan teknologi futuristik atau perjalanan luar angkasa, seperti neon pink, ice blue, atau neon green.

Sebagai contoh, era 1950-an identik dengan warna pastel dan sorbet, yang bisa dipadukan dengan neon futuristik untuk menciptakan nuansa cyborg yang unik. Warna-warna gelap dan lebih muram dari era Victoria cocok dipasangkan dengan metalik cerah seperti kuningan atau krom untuk menghasilkan tampilan steampunk.

Fotografi

Gambar visual adalah komponen inti dari retro futurism, namun gaya fotografi yang kamu pilih sebaiknya terasa lebih fantastis daripada foto pada umumnya. Untuk mendapatkan tampilan retro-futuristik, cobalah membuat kolase yang memadukan elemen retro dan futuristik untuk kesan kitsch, atau gunakan AI Image Generator dari Shutterstock untuk memvisualisasikan konsep yang lebih sureal.

Cara yang mudah untuk memulai adalah menggunakan subjek atau latar retro, seperti instruktur aerobik tahun ’80-an atau diner bergaya mid-century. Setelah itu, tambahkan elemen dan teknologi futuristik seperti baju luar angkasa, penutup kepala, atau robot untuk menciptakan twist retro-futuristik yang unik.

Kamu juga dapat menerapkan atau menggunakan teknik fotografi bernuansa nostalgia untuk memberikan efek vintage yang autentik pada gambarmu.

Grafis

Grafis adalah cara efektif untuk menambahkan detail visual ke dalam desain retro futurism. Latar belakang, logo, atau ikon bergaya vintage dapat langsung mereferensikan dekade tertentu. Misalnya, desain spirograph terinspirasi Bauhaus akan memberi kesan tahun 1930-an pada banner atau poster. Sementara itu, logo bergaya Atomic Age dapat membingkai desain dengan nuansa tahun 1960-an.

Kamu juga dapat meniru gaya grafis poster vintage, yang sering menggunakan bentuk-bentuk geometris dari aliran Modernisme atau Swiss Style, untuk menyajikan gambar futuristik. Dengan cara ini, bahkan visual yang sangat modern pun dapat tampil dengan sentuhan klasik.

Tipografi

Tipografi retro sangat penting untuk proyek yang menonjolkan pesan brand atau logo. Carilah gaya huruf yang meniru estetika futuristik dari era tertentu, seperti font komputer analog khas tahun 1980-an atau font gelembung psikedelik ala era Barbarella tahun 1960-an.

Font Art Deco dari era 1920-an akan memberikan kesan glamor sekaligus gaya geometris tegas pada tata letak retro futurism.

Padukan gaya huruf retro tersebut dengan warna dan efek futuristik seperti garis perspektif 3D ala “swoosh” atau efek metalik neon.

Ilustrasi

Lihatlah gaya ilustrasi yang populer pada era yang ingin kamu jadikan referensi dalam desainmu.

Pada tahun 1920-an dan 1930-an, ilustrasi sangat bergaya dekoratif, dipengaruhi oleh gaya gambar geometris seperti Art Deco. Ilustrasi mid-century menghadirkan warna-warna cerah ala technicolor dan ilustrasi pin-up yang riang. Kamu juga bisa bereksperimen dengan bayangan kuat pada gambar untuk menciptakan tampilan Film Noir yang stylish, khas akhir 1940-an hingga awal 1950-an.

Poster film dengan ilustrasi tangan sangat umum pada tahun 1970-an dan 1980-an, biasanya menampilkan potret realistis para karakter dalam berbagai momen penting dari adegan film. Dulu, poster-poster ini digambar dan dilukis secara manual dengan detail yang sangat teliti, tetapi kamu dapat meniru tampilan tersebut menggunakan efek kuas di Photoshop.

 

Lisensi gambar ini via Alexandr III dan Paul Craft.

Dimana Retro Futurism Bisa Digunakan

Retro futurism menarik bagi berbagai kelompok usia dan demografi, karena kemampuannya memadukan rasa nostalgia dengan daya tarik masa depan. Baik konsumen muda maupun dewasa terbukti merespons dengan baik desain retro futuristik, dengan Gen Z cenderung bereaksi lebih positif terhadap desain yang memasukkan teknologi baru seperti AI atau AR.

Saat menargetkan desain retro-futuristikmu, aturan sederhananya adalah mempertimbangkan dekade mana yang memiliki potensi nostalgia terbesar untuk audiens yang kamu incar. Gen Z, misalnya, telah menghidupkan kembali gaya tahun 2000-an (Y3K) dengan membagikan gaya dan estetika era tersebut di media sosial. Sementara itu, audiens Millennial mungkin lebih bernostalgia dengan era tempat mereka tumbuh besar, seperti tahun 1980-an dan 1990-an.

Kamu dapat melihat gaya retro futurism digunakan dalam berbagai proyek, mulai dari kampanye brand, fashion, hingga lainnya.

Fashion

Retro futurism menjadi tren besar dalam dunia fashion untuk tahun 2026. Louis Vuitton, Maison Margiela, dan Prada telah merilis koleksi runway untuk tahun depan yang memadukan elemen vintage dan futuristik.

Untuk melihat fashion retro-futuristik yang otentik, kamu juga dapat menelusuri arsip brand mode legendaris Paco Rabanne (sekarang Rabanne). Mereka menjadi pelopor fashion futuristik pada tahun 1960-an dengan gaun chainmail yang dibuat dari plastik berkilau dan sequins. Hingga kini, brand tersebut terus mengembangkan koleksi retro futurism dengan bereksperimen menggunakan material dan teknologi produksi mutakhir.

Marketing

Tidak mengherankan jika brand teknologi menjadikan retro futurism sebagai inspirasi untuk kampanye marketing mereka, tetapi tren ini kini mulai meluas dari Microsoft dan Apple ke berbagai industri lain, termasuk makanan, retail, dan wellness.

Marketing berbasis pengalaman (experiential marketing) memanfaatkan sifat escapist dari retro futurism. Tesla, misalnya, menciptakan pengalaman imersif melalui Tesla Diner baru di West Hollywood. Sementara itu, Ben & Jerry’s menghadirkan sentuhan futuristik pada nostalgia lewat truk es krim self-driving.

Branding

Retro futurism adalah gaya yang sangat menyenangkan untuk diaplikasikan dalam branding dan desain grafis. Gaya ini memungkinkan desainer mencampur berbagai elemen dari era yang berbeda, menawarkan semacam “kotak harta karun” visual bagi para kreatif.

Brand retro futuristik yang paling sukses adalah yang mampu menemukan keseimbangan sempurna antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Serta menjaga desain tetap segar dan kontemporer melalui pilihan font yang tepat dan detail modern seperti imagery berbasis AI.

Glossier, misalnya, membangun identitasnya melalui estetika retro futurism bernuansa pastel. Mereka menggunakan kemasan bergaya space-age dan tekstur holografik sebagai bagian dari branding media sosialnya. Brand furnitur seperti Vitra dan Knoll juga mengadopsi estetika retro futurism untuk branding mereka yang terinspirasi Mid-century.


Sumber Inspirasi Retro Futurism yang Berguna

Saat kamu mulai menjelajahi desain retro, kamu akan menemukan berbagai estetika dari berbagai dekade yang siap menginspirasi. Shutterstock juga di sini hadir untuk membantu. Temukan gaya-gaya vintage yang wajib kamu kenal dan pelajari cara membuat foto terlihat retro untuk memberikan sentuhan autentik pada desainmu.

Dengan Shutterstock, kamu dapat menemukan berbagai alat desain gambar yang membantu kamu. Gunakan color palette generator untuk membuat skema warna yang memadukan elemen lama dan baru. Image Cropper juga hadir untuk memotong gambar secara instan, serta Image Resizer untuk menyiapkan gambar retro-mu agar siap diunggah.

Nantikan artikel-artikel menarik lainnya di Blog Riz Visual!

Artikel asli ditulis oleh Grace Fussell –  Retro Futurism in Design: Inside the Aesthetic Where Past Meets Future

Related posts

Cara Menghitung Engagement Rate Untuk Ragam Social Media

Admin Original

Jenis Call To Action yang Audiens Enggak Bisa Nolak

Admin Original

14 KPI Visual Content yang Penting Diketahui

Admin Original

Bagaimana Konten Behind-the-Scenes Membangun Kredibilitas Brand?

Villda Regina

11 Cara Menjadi Digital Marketing Profesional

Admin Original

Leave a Comment